Langsung ke konten utama

4 Cara Mendidik Anak agar Tidak Suka Bohong, Orang Tua Wajib Tahu!

Memiliki anak yang jujur menjadi salah satu dambaan orang tua. Namun, pola asuh orang tua sangat menentukan apakah anak nantinya akan tumbuh sebagai sosok yang jujur atau cenderung menutup diri. 

Alyssa Blask Campbell, pakar pendidikan anak usia dini dan CEO Seed and Sew menekankan, tujuan utama orang tua seharusnya bukan sekadar menghentikan kebohongan, tetapi menciptakan rasa aman terhadap kejujuran. 

1. Ubah Cara Pandang soal Kebohongan

Menurut Campbell, berbohong pada anak sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan otak.

Kemampuan berbohong menunjukkan, anak mulai mampu merencanakan, memecahkan masalah, dan membayangkan berbagai kemungkinan seperti keterampilan penting dalam proses belajar dan kreativitas.

Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai "executive function in action". Dengan kata lain, kebohongan adalah tahapan perkembangan, bukan kegagalan moral.

Anak bisa berbohong karena berbagai alasan, mulai dari takut dihukum, tekanan sosial, impuls yang belum terkontrol, hingga keinginan menjaga kemandirian. Memahami alasannya membuat orang tua bisa merespons kebutuhan anak, bukan sekadar perilakunya.

2. Ganti Hukuman dengan Rasa Aman

Alih-alih memarahi, Campbell menyarankan orang tua membangun rasa aman saat anak berkata jujur. Ia merekomendasikan empat kalimat berikut:

  • "Aku tidak marah. Aku hanya khawatir karena aku ingin kamu aman. Yuk kita bicarakan bagaimana supaya ke depan bisa lebih baik."
  • "Aku tetap sayang kamu meski kamu membuat kesalahan. Kamu aman untuk berkata jujur padaku."
  • "Kamu takut bilang jujur karena khawatir aku marah? Tidak apa-apa. Aku bisa menenangkan diriku supaya bisa membantumu."
  • "Aku ingin kamu merasa aman untuk berkata jujur. Aku akan mendengarkan dan kita bisa menyelesaikan masalah bersama."

Kalimat-kalimat ini mengirim pesan yang kuat bahwa kejujuran tidak akan berujung pada ancaman, melainkan solusi.

3. Cari Stres di Balik Kebohongan

Campbell memberi contoh kasus Eva (12), yang melanggar aturan penggunaan iPhone satu jam setelah sekolah dan berbohong kepada ibunya, Jane. Ternyata Eva hanya ingin menyamakan pakaian dengan temannya dan takut mengecewakan.

Alih-alih fokus pada pelanggaran, Jane memilih berkata,

"Terima kasih sudah jujur. Ibu paham. Aturannya tetap satu jam, tapi lain kali bilang saja. Ibu lebih memilih memberi lima menit tambahan daripada kamu harus berbohong."

Respons seperti ini menjaga kepercayaan dan mengajarkan, kejujuran menghasilkan pemahaman, bukan hukuman.

4. Bangun Budaya Jujur di Rumah

Campbell menegaskan, bahkan di rumah yang penuh kepercayaan, anak tetap bisa berbohong. Itu bagian dari proses belajar. Untuk memperkuat budaya jujur:

  • Normalisasi kesalahan agar anak tidak takut berkata jujur.
  • Validasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, "Aku paham kenapa kamu gugup mengatakannya."
  • Tegaskan batasan dengan tenang, karena empati bisa berjalan seiring disiplin.
  • Tetap fleksibel, agar anak melihat kejujuran membawa manfaat nyata.

"Makin aman perasaan anak bersama orang tuanya, semakin besar kemungkinan mereka bersikap jujur, bahkan ketika itu sulit," ujar Campbell.

Ia menutup dengan pesan penting bagi orang tua. Alih-alih bertanya, "Bagaimana caranya supaya anak berhenti berbohong?", lebih baik bertanya, "Apa yang sedang dilindungi anak lewat kebohongan ini?"

Tanggapi dengan empati. Jaga agar pintu kejujuran tetap terbuka. Itulah cara Anda membangun kepercayaan yang langgeng. Semoga informasi ini membantu!

Sumber : CNBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

6 Tips Hadapi Cuaca Ekstrem Selama Ramadhan, Puasa Tetap Sehat dan Aman!

Belakangan ini cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, hingga petir terjadi di sejumlah wilayah Indonesia selama bulan Ramadhan.  Kondisi ini bisa mengganggu berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari perjalanan menjelang berbuka puasa hingga pelaksanaan ibadah tarawih. Agar tetap aman dan nyaman menjalani ibadah puasa, masyarakat perlu mengetahui cara menghadapi cuaca ekstrem dengan tepat. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan saat menghadapi hujan lebat dan angin kencang selama Ramadhan. 1. Selalu Pantau Informasi Cuaca Langkah pertama yang penting dilakukan adalah memantau perkembangan cuaca setiap hari. Informasi prakiraan cuaca biasanya tersedia melalui aplikasi resmi, media sosial, atau situs lembaga meteorologi. Dengan mengetahui potensi hujan atau angin kencang sejak awal, masyarakat dapat merencanakan aktivitas seperti perjalanan pulang kerja, belanja kebutuhan berbuka, atau pergi ke masjid dengan lebih aman. 2. Siapkan Perlengkapan Hujan Saat musim hujan, me...

5 Rahasia Kerja Produktif, Sederhana Tapi Sering Dilupakan

Di tengah rutinitas kerja yang padat, banyak orang yang merasa terjebak dan merasa harus terus produktif. Bahkan, tidak sedikit yang sibuk mencari cara rumit untuk meningkatkan kinerja. Mulai dari mengikuti pelatihan, mencoba aplikasi manajemen waktu, hingga merombak jadwal kerja.  Padahal, seringkali solusi sederhana justru lebih efektif untuk menjaga fokus, menghemat energi, dan membuat pekerjaan terasa lebih ringan.  Langkah kecil ini justru sering diabaikan. Jika dilakukan konsisten, hasilnya bisa jauh lebih terasa dibandingkan strategi yang rumit. Apa saja rahasia sederhana untuk kerja lebih produktif? yuk, simak selengkapnya di bawah ini ya!  1. Mulai Hari dengan Prioritas yang Jelas Bekerja tanpa arah sama seperti berlayar tanpa kompas. Salah satu rahasia sederhana untuk produktif adalah menentukan prioritas sebelum mulai bekerja. Luangkan waktu 5–10 menit di pagi hari untuk membuat daftar tugas yang harus diselesaikan. Urutkan dari yang paling penting dan mendesak...

4 Cara Agar Tetap Fokus Mencapai Tujuan

Banyak orang yang memiliki tujuan hidup tertentu namun selalu mendapat gangguan dan akhirnya menunda semua rencana itu. Faktor di dalam diri maupun dari luar dapat membuat kamu menunda atau bahkan membatalkan rencana kamu dalam hidup, ditambah lagi dengan kondisi saat ini dengan mewabahnya Covid-19 yang membuat banyak orang menunda banyak hal. Itu semua terjadi karena kamu kurang fokus terhadap rencana tersebut dan membiarkan segala gangguan menggagalkan rencana kamu. Rasa malas bisa saja berasal dari otak kamu. Penelitian menunjukkan bahwa di waktu luang kita sering tidak melakukan apa yang kita sebenarnya harus kita nikmati. Otak kamu tidak ingin membuang-buang energi, itu menjadikan kamu malas. Masalahnya, dunia tidak malas, hari-hari terus berjalan saat kamu sedang bermalas-malasan. Semuanya seakan menuntut perhatian kita. kamu ingin membuat rencana dan menindaklanjuti atau mencapai tujuan tanpa gangguan tetapi sekitar kamu tampaknya kompak untuk menahan itu semua. Namun itu semua ...